Di era di mana informasi bergerak begitu cepat, akses terhadap sumber belajar seharusnya tidak lagi terhambat oleh batas-batas geografis. Namun, kenyataannya masih banyak daerah yang sulit dijangkau oleh fasilitas perpustakaan konvensional yang menetap di satu lokasi. Menjawab tantangan tersebut, inovasi Mobil Perpus Keliling hadir sebagai solusi jemput bola yang sangat efektif untuk melayani masyarakat di daerah-daerah terpencil. Konsep perpustakaan yang bergerak ini memungkinkan ilmu pengetahuan mendatangi pembacanya, bukan sebaliknya, sehingga efisiensi waktu dan tenaga masyarakat dapat terjaga dengan baik.
Program ambisius ini dipelopori oleh unit IT Pasundan, yang mengintegrasikan konsep perpustakaan tradisional dengan sentuhan teknologi modern. Mobil yang digunakan tidak hanya berisi rak-rak buku fisik yang tertata rapi, tetapi juga dilengkapi dengan perangkat teknologi informasi seperti tablet dan akses internet terbatas. Hal ini dilakukan untuk memberikan pengalaman baru bagi masyarakat desa dalam mengakses informasi. Dengan pendekatan ini, perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai tempat yang membosankan dan penuh debu, melainkan sebagai pusat inovasi yang dinamis dan relevan dengan perkembangan zaman.
Visi utama dari kehadiran mobil unit ini adalah untuk mewujudkan literasi tanpa batas bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sekolah hingga para petani di ladang. Di setiap perhentiannya, mobil ini selalu disambut dengan antusiasme tinggi oleh warga. Bagi siswa sekolah dasar, kehadiran mobil perpustakaan adalah momen yang paling ditunggu karena mereka bisa meminjam buku-buku cerita bergambar yang jarang tersedia di sekolah mereka. Sementara bagi orang dewasa, tersedia buku-buku panduan praktis mengenai pertanian, peternakan, hingga kewirausahaan mikro yang bisa langsung diterapkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga.
Selain fokus pada literasi baca-tulis, program ini juga memberikan edukasi mengenai dasar-dasar pengetahuan digital kepada masyarakat pedesaan. Di dalam mobil tersebut, petugas seringkali memberikan demonstrasi cara mencari informasi yang akurat melalui mesin pencari atau cara menggunakan aplikasi pendidikan yang bermanfaat. Hal ini sangat krusial mengingat penetrasi gawai di desa cukup tinggi, namun seringkali tidak dibarengi dengan kecakapan digital yang memadai. Dengan bimbingan dari tim ahli, warga diajak untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi yang mereka miliki.