Generasi digital atau Gen Z, yang tumbuh besar dengan gawai dan internet, dihadapkan pada dunia yang serba cepat dan penuh informasi. Di tengah arus modernisasi ini, menumbuhkan akhlak mulia menjadi sebuah kebutuhan fundamental dan krusial dalam pendidikan karakter. Tanpa fondasi moral yang kuat, kemajuan teknologi justru dapat menjadi bumerang, mengikis nilai-nilai luhur dan etika sosial yang telah lama dipegang teguh.
Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) per akhir tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan Gen Z di media sosial mencapai 4-6 jam per hari. Paparan informasi yang masif ini, baik positif maupun negatif, menuntut menumbuhkan akhlak mulia agar Gen Z mampu menyaring dan bersikap bijak. Laporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Januari 2025 juga mencatat peningkatan kasus cyberbullying dan penyalahgunaan informasi yang melibatkan remaja, menggarisbawahi pentingnya edukasi etika digital.
Menyadari urgensi ini, pada hari Kamis, 24 April 2025, pukul 09.30 WIB, di Aula Prof. H.R. Djoko Santoso, Kementerian Agama, Jakarta, diselenggarakan Konferensi Nasional Moderasi Beragama dan Karakter Bangsa. Konferensi ini dihadiri oleh tokoh agama, budayawan, pendidik, dan perwakilan pemerintah. Dalam pidato pembukaan, Menteri Agama, Bapak Yaqut Cholil Qoumas, menyampaikan bahwa menumbuhkan akhlak mulia tidak bisa ditawar lagi, dan ini adalah tanggung jawab kolektif. Beliau juga menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sekitar dalam pembentukan karakter anak.
Untuk menumbuhkan akhlak mulia di tengah generasi digital, diperlukan pendekatan yang adaptif dan holistik. Pertama, integrasi nilai-nilai karakter dalam setiap aspek kurikulum, bukan hanya sebagai teori, tetapi melalui praktik nyata dan contoh teladan dari guru. Kurikulum Merdeka dengan Profil Pelajar Pancasila adalah langkah awal yang baik. Kedua, pemanfaatan teknologi secara positif. Media digital dapat digunakan untuk menyebarkan konten edukasi karakter yang menarik, seperti video inspiratif, podcast, atau permainan edukasi berbasis nilai. Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Pusbuk) Kemendikbudristek telah meluncurkan 50 modul digital tentang nilai-nilai kebhinekaan dan gotong royong pada 10 Maret 2025.
Ketiga, kolaborasi erat antara sekolah, keluarga, dan komunitas. Orang tua perlu dibekali pemahaman tentang bagaimana mendampingi anak di era digital, sementara komunitas dapat menyediakan wadah untuk pengembangan karakter melalui kegiatan sosial dan keagamaan. Dengan upaya bersama ini, diharapkan menumbuhkan akhlak mulia akan menjadi realitas bagi generasi digital Indonesia, menciptakan individu yang cerdas, beretika, dan siap menghadapi masa depan dengan integritas.